Minggu, 03 Maret 2013

Jangan Tertipu Taqiyah Syiah


  Bay: Hajji Abdullah (Aswaja)

bukti2 kesesatan syiah mah dah byk bertabur... ini sedikit contoh aj eaaa... no hujat... pipiss man... hehe

- KEYAKINAN KONYOL SYIAH

menurut ahmad dinejad, Imam ke-12 syiah (yg lg ngumpet di goa) mengontrol segala sesuatu yg terjadi di dunia ini dr tempat persembunyiannya... hegheg XD

[youtube]i7iELEHzq5U[/youtube]



- INI BUKAN FITNAH, SYIAH MELAKNAT KELUARGA NABI (ISTRI2 NABI) DAN SHAHABAT NABI

doa laknat dua berhala qurais (abu bakar dan ‘umar) & dua penyihir (bunda mukmin aisyah & hafsah)... ini dr site syiah berisi doa2 karangan ulama mreka Syaikh Abbas Qummi... liat about us nya

siapa itu syaikh abbas qummi...??? beliau adalah salah satu ulamak terkemuka syiah di iraq... liat biografi syaikh qummi di site syiah ini

Doa Mengutuk Dua Berhala Qurais


“In the name of Allah the Beneficent the Merciful.
O Allah! Curse the two idols of Quraish and their two magicians, their two rebellious people, their two accusers and their two daughters. Rebuke them, they have consumed Your sustenance and have denied Your obligations, both have discarded Your commands, have rejected Your revelation, have disobeyed Your Prophet, hav destroyed Your religion, have distorted Your book, have made Your laws ineffective, have declared Your obligatory actions as incorrect, have disbelieved in Your signs, have oppressed Your friends, have loved Your enemies, have spread corruption among Your people, have made Your world occur loses..." etc...

“Dengan nama Allah Yang Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ya Allah! Kutukan dua berhala Quraisy (abu bakar dan ‘umar) dan dua penyihir (aisyah dan hafsah), mereka berdua orang-orang pemberontak, mereka dua penuduh dan dua orang anaknya. Menegur mereka, mereka telah mengkonsumsi makanan-Mu dan menyangkal kewajibanmu, baik telah membuang perintah-Mu, telah menolak wahyu-Mu, telah melanggar perintah Nabi-Mu, telah menghancurkan agama-Mu, telah menrdistorsi Kitab-Mu, telah membuat hukum-Mu menjadi tidak efektif, telah menyatakan kewajiban dari-Mu bertindak dengan tidak benar, telah kafir dalam tanda-tanda-Mu, telah menindas teman-Mu, mengasihi musuh-Mu, telah menyebabkan korup menyebar di antara orang-orang-Mu, telah membuat dunia-Mu menjadi kalah..." dst...

doa ini sebenarnya karangan ulamak syi’ah yg bernama Thabrusi dalam kitabnya Fashlul-Khithab (halaman 82)


- INI BUKAN MENGADA-ADA, SYIAH MERAYAKAN HARI KEMATIAN BUNDA MUKMIN AISYAH SEBAGAI HARI RAYA DENGAN PENUH KEGEMBIRAAN

Ulamak mereka, syaikh al-habib berkata: "aisyah sekarang berada dalam api neraka digantung kakinya dan memakan dagingnya sendiri"

cek pake biji mata mu sendiri


syiah emg yahud

Sabtu, 23 Februari 2013

Syiah adalah Pembunuh Sayyidina Husain di Karbala


Seorang tokoh Islam yang terkenal di Pakistan, Maulana Ali Ahmad Abbasi menulis di dalam bukunya “Hazrat Mu’aawiah Ki Siasi Zindagi” bahwa di dalam sejarah Islam, ada dua orang yang sungguh kontroversial. Seorang di antaranya adalah Amirul Mukminin Yazid yang makin lama makin dimusnahkan image-nya walaupun semasa hayatnya beliau diterima baik oleh tokoh-tokoh utama di zaman itu. Seorang lagi ialah Manshur Al Hallaj. Di zamannya dia telah dihukum sebagai mulhid, zindiq, dan salah seorang dari golongan Qaramithah oleh masyarakat Islam yang membawanya disalib. Amirul Mukminin Al Muqtadir Billah telah menghukumnya murtad berdasarkan fatwa seluruh ulama dan fuqaha’ yang hidup pada waktu itu, tetapi image-nya semakin cerah tahun demi tahun sehingga akhirnya telah dianggap sebagai salah seorang ‘Aulia Illah’.

Bagaimanapun, semua ini adalah permainan khayalan dan fantasi manusia yang jauh dari berpijak di bumi yang nyata. Semua ini adalah akibat dari tidak menghargai dan memberikan penilaian yang sewajarnya kepada pendapat orang-orang pada zaman mereka masing-masing.
Pendapat tokoh-tokoh dari kalangan sabahat dan tabi’in yang sezaman dengan Yazid, berdasarkan riwayat-riwayat yang muktabar dan sangat kuat kedudukannya, menjelaskan kepada kita bahwa Yazid adalah seorang anak muda yang bertaqwa, alim, budiman, shalih, dan pemimpin ummah yang sah dan disepakati kepemimpinannya. Baladzuri umpamanya dalam “Ansabu Al Asyraf” mengatakan bahwa, “Bila Yazid dilantik menjadi khalifah maka Abdullah bin Abbas, seorang tokoh dari Ahlul Bait berkata: “Sesungguhnya anaknya Yazid adalah dari keluarga yang shalih. Oleh karena itu, tetaplah kamu berada di tempat-tempat duduk kamu dan berilah ketaatan dan bai’at kamu kepadanya” (Ansabu Al Asyraf, jilid 4, halaman 4).
Sejarawan Baladzuri adalah di antara ahli sejarah yang setia kepada para Khulafa Al Abbasiyah. Beliau telah mengemukakan kata-kata Ibnu Abbas ini di hadapan mereka dan menyebutkan pula sebelum nama Yazid sebutan ‘Amirul Mukminin’.
Abdullah Ibnu Umar yang dianggap sebagai orang tua di kalangan sahabat pada masa itu pun bersikap tegas terhadap orang-orang yang menyokong pemberontakan yang dipimpin oleh Ibnu Zubair terhadap kerajaan Yazid, dan sikap yang ini disebutkan di dalam Shahih Bukhari bahwa, bila penduduk Madinah membatalkan bai’at mereka terhadap Yazid bin Muawiyah maka Ibnu Umar mengumpulkan anak pinak dan sanak saudaranya lalu berkata,
“Saya pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Akan dipancangkan bendera untuk setiap orang yang curang (membatalkan bai’atnya) pada hari kiamat. Sesungguhnya kita telah berbai’at kepadanya dengan nama Allah dan RasulNya. Sesungguhnya saya tidak mengetahui kecurangan yang lebih besar dibandingkan kita berbai’at kepada seseorang dengan nama Allah dan RasulNya, kemudian kita bangkit pula memeranginya. Kalau saya tahu ada siapa saja dari kamu membatalkan bai’at kepadanya, dan turut serta di dalam pemberontakan ini, maka terputuslah hubungan di antaraku dengannya.” (Shahih Bukhari – Kitabu Al Fitan)
Sebenarnya jika dikaji sejarah permulaan Islam, kita dapati pembunuhan Sayyidina Husain di zaman pemerintahan Yazid-lah yang merupakan fakta terpenting mendorong segala fitnah dan keaiban yang dikaitkan dengan Yazid tidak mudah ditolak oleh generasi kemudian. Hakikat inilah yang mendorong lebih banyak cerita-cerita palsu tentang Yazid  yang diada-adakan oleh musuh-musuh Islam. Tentu saja, orang yang membunuh cucu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tersayang- dibelai oleh Rasulullah dengan penuh kasih sayang semasa hayatnya kemudian dijunjung pula dengan menyebutkan kelebihan dan keutamaan-keutamaannya di dalam hadits-hadits Baginda- tidak akan dipandang sebagai seorang yang berperi kemanusiaan apalagi untuk mengatakannya seorang shalih, budiman, bertaqwa, dan pemimpin umat Islam.
Karena itulah cerita-cerita seperti Yazid sering kali minum arak, seorang yang suka berfoya-foya, suka mendengar musik, dan menghabiskan waktu dengan penari-penari, begitu juga beliau adalah orang terlalu rendah jiwanya sehingga suka bermain dengan monyet dan kera, terlalu mudah diterima oleh umat Islam kemudian.
Tetapi soalnya, benarkah Yazid membunuh Sayyidina Husain? Atau benarkah Yazid memerintahkan supaya Sayyidina Husain dibunuh di Karbala?
Selagi tidak dapat ditentukan siapakah pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya dan terus diucapkan, “Yazid-lah pembunuhnya,” tanpa soal selidik yang mendalam dan teliti, maka selama itulah nama Yazid akan terus tercemar dan dia akan dipandang sebagai manusia yang paling malang. Tetapi bagaimana jika yang membunuh Sayyidina Husain itu bukan Yazid? Kemanakah pula akan kita bawa segala tuduhan-tuduhan liar, fitnah, dan caci maki yang selama ini telah kita sandarkan pada Yazid itu?
Jika kita seorang yang cintakan keadilan, berlapang dada, sudah tentu kita akan berusaha untuk membincangkan segala keburukan yang dihubungkan kepada Yazid selama ini dan kita pindahkannya ke halaman rumah pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya. Apalagi jika kita seorang Ahlus Sunnah wal Jamaah, sudah tentu dengan dengan adanya bukti-bukti yang kuat dan kukuh dari sumber-sumber rujukan muktabar dan berdasarkan prinsip-prinsip aqidah yang diterima di kalangan Ahlus Sunnah, kita akan terdorong untuk membersihkan Yazid daripada segala tuduhan dan meletakkannya ditempat yang istimewa dan selayak dengannya di dalam rentetan sejarah awal Islam.
Sekarang marilah kita pergi ke tengah-tengah medan penyelidikan tentang pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala bersama-sama dengan sekian banyak anggota keluarganya.
Pembunuh Sayyidina Husain Adalah Syiah Kufah
Terlebih dahulu kita akan menyatakan dakwaan kita secara terus terang dan terbuka bahwa pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya bukanlah Yazid, tetapi adalah golongan Syiah Kufah.
Dakwaan ini berdasarkan beberapa fakta dan bukti-bukti daripada sumber-sumber rujukan sejarah yang muktabar. Kita akan membahagi-bahagikan bukti-bukti yang akan dikemukakan nanti kepada dua bagian :
  1.  Bukti-bukti utama
  2.  Bukti-bukti pendukung
I. Bukti-bukti Utama
Dengan adanya bukti-bukti utama ini, tiada mahkamah pengadilan yang dibangun untuk mencari kebenaran dan mendapatkan keadilan akan memutuskan Yazid sebagai terdakwa dan sebagai penjahat  yang bertanggungjawab di dalam pembunuhan Sayyidina Husain. Bahkan Yazid akan dilepaskan dengan penuh penghormatan dan akan terbongkarlah rahasia yang selama ini menutupi pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya di Karbala.
Bukti pertamanya ialah pengakuan Syiah Kufah sendiri bahwa merekalah yang membunuh Sayyidina Husain. Golongan Syiah Kufah yang mengaku telah membunuh Sayyidina Husain itu kemudian muncul sebagai golongan “At Tawwaabun” yang konon menyesali tindakan mereka membunuh Sayyidina Husain. Sebagai cara bertaubat, mereka telah berbunuh-bunuhan sesama mereka seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebagai pernyataan taubatnya kepada Allah karena kesalahan mereka menyembah anak lembu sepeninggalan Nabi Musa ke Thur Sina.
Air mata darah yang dicurahkan oleh golongan “At Tawaabun” itu masih kelihatan dengan jelas pada lembaran sejarah dan tetap tidak hilang walaupun coba dihapuskan oleh mereka dengan beribu-ribu cara.
Pengakuan Syiah pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain ini diabadikan oleh ulama-ulama Syiah yang merupakan tunggak dalam agama mereka seperti Baqir Majlisi, Nurullah Syustri, dan lain-lain di dalam buku mereka masing-masing. Baqir Majlisi menulis :
“Sekumpulan orang-orang Kufah terkejut oleh satu suara ghaib. Maka berkatalah mereka, “Demi Tuhan! Apa yang telah kita lakukan ini tak pernah dilakukan oleh orang lain. Kita telah membunuh “Penghulu Pemuda Ahli Surga” karena Ibnu Ziad anak haram itu. Di sini mereka mengadakan janji setia di antara sesama mereka untuk memberontak terhadap Ibnu Ziad tetapi tidak berguna apa-apa.” (Jilaau Al ‘Uyun, halaman 430)
Qadhi Nurullah Syustri pula menulis di dalam bukunya Majalisu Al Mu’minin bahwa setelah  sekian lama (lebih kurang 4 atau 5 tahun) Sayyidina Husain terbunuh, ketua orang-orang Syiah mengumpulkan orang-orang Syiah dan berkata,
“Kita telah memanggil Sayyidina Husain dengan memberikan janji akan taat setia kepadanya, kemudian kita berlaku curang dengan membunuhnya. Kesalahan kita sebesar ini tidak akan diampuni kecuali kita berbunuh-bunuhan sesama kita.” Dengan itu berkumpullah sekian banyak orang Syiah di tepi Sungai Furat sambil mereka membaca ayat yang bermaksud, “Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu.” (Al Baqarah: 54). Kemudian mereka berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Inilah golongan yang dikenali dalam sejarah Islam dengan gelar “At Tawaabun.”
Sejarah tidak lupa dan tidak akan melupakan peranan Syits bin Rab’i di dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala. Tahukah Anda siapa itu Syits bin Rab’i? Dia adalah seorang Syiah tulen, pernah menjadi duta pada Sayyidina Ali di dalam peperangan Shiffin, senantiasa bersama Sayyidina Husain. Dialah juga yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk mencetuskan pemberontakan terhadap pemerintahan pimpinan Yazid, tetapi apakah yang telah dilakukan olehnya?
Sejarah memaparkan bahwa dialah yang mengepalai 4.000 orang bala tentera untuk menentang Sayyidina Husain dan dialah orang yang mula-mula turun dari kudanya untuk memenggal kepala Sayyidina Husain. (Jilaau Al Uyun dan Khulashatu Al Mashaaib, halaman 37)
Adakah masih ada orang yang ragu-ragu tentang Syiah-nya Syits bin Rab’i dan tidakkah orang yang menceritakan perkara ini ialah Mullah Baqir Majlisi, seorang tokoh Syiah terkenal? Secara tidak langsung ia bermakna pengakuan dari pihak Syiah sendiri tentang pembunuhan itu.
Lihatlah pula kepada Qais bin Asy’ats, ipar Sayyidina Husain, yang tidak diragui tentang Syiahnya tetapi apa kata sejarah tentangnya? Bukankah sejarah menjelaskan kepada kita bahwa itulah orang yang merampas selimut Sayyidina Husain dari tubuhnya selepas selesai pertempuran? (Khulashatu Al Mashaaib, halaman 192)
Selain dari pengakuan mereka sendiri yang membuktikan merekalah sebenarnya pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain, pernyataan saksi-saksi yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain sebagai saksi-saksi hidup di Karbala, yang terus hidup selepas peristiwa ini, juga membenarkan dakwaan ini termasuk pernyataan Sayyidina Husain sendiri yang sempat direkam oleh sejarah sebelum beliau terbunuh. Sayyidina Husain berkata dengan menujukan kata-katanya kepada orang- orang Syiah Kufah yang siap sedia bertempur dengan beliau:
“Wahai orang-orang Kufah! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat maksud- maksud jahatmu. Wahai orang-orang yang curang, zalim, dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kamu di waktu kesempitan tetapi bila kami datang untuk memimpin dan membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepadamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-musuh di dalam menentang kami.” (Jilaau Al Uyun, halaman 391).
Beliau juga berkata kepada Syiah:
“Binasalah kamu! Bagaimana boleh kamu menghunuskan perang dendammu dari sarung-sarungnya tanpa sembarang permusuhan dan perselisihan yang ada di antara kamu dengan kami? Kenapakah kamu siap sedia untuk membunuh Ahlul Bait tanpa sembarang sebab?” (Ibid).
Akhirnya beliau mendoakan keburukan untuk golongan Syiah yang sedang berhadapan untuk bertempur dengan beliau:
“Ya Allah! Tahanlah keberkatan bumi dari mereka dan selerakkanlah mereka. Jadikanlah hati-hati pemerintah terus membenci mereka karena mereka menjemput kami dengan maksud membela kami tetapi sekarang mereka menghunuskan pedang dendam terhadap kami.” (Ibid)
Beliau juga dicatat telah mendoakan keburukan untuk mereka dengan kata-katanya:
“Binasalah kamu! Tuhan akan membalas bagi pihakku di dunia dan di akhirat… Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang-pedang di atas tubuhmu dan mukamu akan menumpahkan darah kamu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia adzab Tuhan untukmu  di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya.” (Mullah Baqir Majlisi – Jilaau Al Uyun, halaman 409).
Dari kata-kata Sayyidina Husain yang dipaparkan oleh sejarawan Syiah sendiri, Mullah Baqir Majlisi, dapat disimpulkan bahwa:
  1. Propaganda yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam melalui penulisan sejarah bahwa pembunuhan Ahlul Bait di Karbala merupakan balas dendam dari Bani Umayyah terhadap Ahlul Bait yang telah membunuh pemimpin-pemimpin Bani Umayyah yang kafir di dalam peperangan Badar, Uhud, Shiffin, dan lain-lain tidak lebih daripada propaganda kosong semata-mata karena pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain dan Ahlul Bait di Karbala bukannya datang dari Syam, bukan juga dari kalangan Bani Umayyah tetapi dari kalangan Syiah Kufah.
  2. Keadaan Syiah yang sentiasa diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang sejarah membuktikan termakbulnya doa Sayyidina Husain di medan Karbala atas Syiah.
  3. Upacara menyiksa badan dengan memukul tubuhnya dengan rantai, pisau, dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh golongan Syiah itu sehingga mengalir darah juga merupakan bukti diterimanya doa Sayyidina Husain dan upacara ini dengan jelas dapat dilihat hingga sekarang di dalam masyarakat Syiah. Adapun di kalangan Ahlus Sunnah tidak pernah terjadi upacara yang seperti ini dan dengan itu jelas menunjukkan bahwa merekalah golongan yang bertanggungjawab membunuh Sayyidina Husain.
  4. Betapa kejam dan kerasnya hati golongan ini dapat dilihat pada tindakan mereka menyembelih dan membunuh Sayyidina Husain bersama dengan sekian banyak anggota keluarganya, walaupun setelah mendengar ucapan dan doa keburukan untuk mereka yang dipinta oleh beliau. Itulah dia golongan yang buta mata hatinya dan telah hilang kewarasan pemikirannya karena sebaik saja mereka selesai membunuh, mereka melepaskan kuda Dzuljanah yang ditunggangi Sayyidina Husain sambil memukul-mukul tubuh untuk menyatakan penyesalan. Dan inilah dia upacara perkabungan pertama terhadap kematian Sayyidina Husain yang pernah dilakukan di atas muka bumi ini sejauh pengetahuan sejarah. Dan hari ini tidakkah anak cucu golongan ini meneruskan upacara berkabung ini setiap kali tibanya 10 Muharram?
Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain yang turut serta di dalam rombongan ke Kufah dan terus hidup selepas terjadinya peristiwa itu juga berkata kepada orang-orang Kufah lelaki dan perempuan yang merentap dengan mengoyak-ngoyakkan baju mereka sambil menangis, dalam keadaan sakit beliau dengan suara yang lemah berkata kepada mereka,
“Mereka ini menangisi kami. Tidakkah tidak ada orang lain yang membunuh kami selain mereka?” (At Thabarsi, Al Ihtijaj, halaman 156).
Pada halaman berikutnya Thabarsi menukilkan kata-kata Imam Ali Zainal Abidin kepada orang-orang Kufah. Kata beliau,
“Wahai manusia (orang-orang Kufah)! Dengan nama Allah aku bersumpah untuk bertanya kamu, ceritakanlah! Tidakkah kamu sadar bahwa kamu mengutuskan surat kepada ayahku (menjemputnya datang), kemudian kamu menipunya? Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia kamu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu karena amalan buruk yang telah kamu dahulukan untuk dirimu.”
Sayyidatina Zainab, saudara perempuan Sayyidina Husain yang terus hidup selepas peristiwa itu juga mendoakan keburukan untuk golongan Syiah Kufah. Katanya,
“Wahai orang-orang Kufah yang khianat, penipu! Kenapa kamu menangisi kami sedangkan air mata kami belum kering karena kezalimanmu itu. Keluhan kami belum terputus oleh kekejamanmu. Keadaan kamu tidak ubah seperti perempuan yang memintal benang kemudian dirombaknya kembali. Kamu juga telah merombak ikatan iman dan telah berbalik kepada kekufuran… Adakah kamu meratapi kami, padahal kamu sendirilah yang membunuh kami. Sekarang kamu pula menangisi kami. Demi Allah! Kamu akan banyak menangis dan sedikit ketawa. Kamu telah membeli keaiban dan kehinaan untuk kamu. Tumpukan kehinaan ini sama sekali tidak akan hilang walau dibasuh dengan air apapun.” (Jilaau Al  Uyun, halaman 424).
Doa anak Sayyidatina Fatimah ini tetap menjadi kenyataan dan berlaku di kalangan Syiah hingga hari ini.
Ummu Kultsum anak Sayyidatina Fatimah berkata sambil menangis di atas sekedupnya, “Wahai orang-oang Kufah! Buruklah hendaknya keadaanmu. Buruklah hendaklah rupamu. Kenapa kamu menjemput saudaraku, Husain, kemudian tidak membantunya, bahkan membunuhnya, merampas harta bendanya dan menawan orang-orang perempuan dari Ahli Bait-nya. Laknat Allah ke atas kamu dan semoga kutukan Allah mengenai mukamu.”
Beliau juga berkata, ” Wahai orang-orang Kufah! Orang-orang lelaki dari kalangan kamu membunuh kami sementara orang-orang perempuan pula menangisi kami. Tuhan akan memutuskan di antara kami dan kamu di hari kiamat nanti.” (Ibid, halaman 426-428)
Sementara Fatimah anak perempuan Sayyidina Husain berkata, “Kamu telah membunuh kami dan merampas harta benda kami, kemudian telah membunuh kakekku Ali (Sayyidina Ali). Senantiasa darah-darah kami menetes dari ujung-ujung pedangmu…… Tak lama lagi kamu akan menerima balasannya. Binasalah kamu! Tunggulah nanti azab dan kutukan Allah akan terus menerus menghujani kamu. Siksaan dari langit akan memusnahkan kamu akibat perbuatan terkutukmu. Kamu akan memukul tubuhmu dengan pedang-pedang di dunia ini dan di akhirat nanti kamu akan terkepung dengan azab yang pedih.”
Apa yang dikatakan oleh Sayyidatina Fatimah binti Husain ini dapat dilihat dengan mata kepala kita sendiri dimana pun Syiah berada.
Dua bukti utama yang telah kita kemukakan tadi, sebenarnya sudah mencukupi untuk kita memutuskan siapakah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain di Karbala. Dari keterangan dalam keduaa bukti yang lalu dapat kita simpulkan beberapa perkara :
  1. Orang-orang yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk memberontak adalah Syiah.
  2. Orang-orang yang tampil untuk bertempur dengan rombongan Sayyidina Husain di Karbala itu juga Syiah.
  3. Sayyidina Husain dan orang-orang yang ikut serta di dalam rombongannya terdiri daripada saudara-saudara perempuannya dan anak-anaknya menyaksikan bahwa Syiah-lah yang telah membunuh mereka.
  4. Golongan Syiah Kufah sendiri mengakui merekalah yang membunuh di samping menyatakan penyesalan mereka dengan meratap dan berkabung karena kematian orang-orang yang dibunuh oleh mereka.
Mahkamah di dunia ini menerima keempat perkara yang tersebut tadi sebagai bukti yang kukuh dan jelas menunjukkan siapakah pembunuh sebenarnya di dalam suatu kasus pembunuhan, yaitu bila pembunuh dan yang terbunuh berada di suatu tempat, ada orang menyaksikan ketika mana pembunuhan itu dilakukan. Orang yang terbunuh sendiri menyaksikan tentang pembunuhnya dan puncaknya ialah pengakuan pembunuh itu sendiri. Jika keempat perkara ini sudah terbukti dengan jelas dan diterima oleh semua pengadilan sebagai kasus pembunuhan yang cukup bukti-buktinya, maka bagaimana mungkin diragui lagi tentang pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain itu?
Ii. Bukti-bukti Pendukung
Walau bagaimanapun kita akan mengemukakan lagi beberapa bukti pendukung supaya lebih menyakinkan kita tentang golongan Syiah itulah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain. Di antaranya ialah:
Pertama
Tidak sukar untuk kita terima bahwa mereka sebagai pembunuh Sayyidina Husain apabila kita melihat sikap mereka yang biadab terhadap Sayyidina Ali dan Sayyidina Hasan sebelum itu. Begitu juga sikap mereka yang biadap terhadap orang-orang yang dianggap oleh mereka sebagai Imam selepas Sayyidina Husain. Bahkan terdapat banyak pula bukti yang menunjukkan merekalah yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan beberapa orang Imam walaupun mereka menuduh orang lain sebagai pembunuh Imam-imam itu dengan menyebar luaskan propaganda-propaganda mereka terhadap tertuduh itu.
Di antara kebiadaban mereka terhadap Sayyidina Ali ialah mereka menuduh Sayyidina Ali berdusta dan mereka pernah mengancam untuk membunuh Sayyidina Ali. Bahkan Ibnu Muljim yang kemudian membunuh Sayyidina Ali itu juga mendapat latihan serta didikan untuk menentang Sayyidina Utsman di Mesir dan berpura-pura mengasihi Sayyidina Ali. Dia pernah berkhidmat sebagai pengawal Sayyidina Ali selama beberapa tahun di Madinah dan Kufah.
Di dalam Jilaau Al Uyun disebutkan bahwa Abdul Rahman ibnu Muljim adalah salah seorang dari kelompok yang terhormat yang telah dikirimkan oleh Muhammad bin Abu Bakr dari Mesir. Dia juga telah berbai’at dengan memegang tangan Sayyidina Ali dan dia juga berkata kepada Sayyidina Hasan, ”Bahwa aku telah berjanji dengan Tuhan untuk membunuh bapakmu dan sekarang aku menunaikannya. Sekarang wahai Hasan, jika engkau mau membunuhku, bunuhlah. Tetapi kalau engkau maafkan aku, aku akan pergi membunuh Muawiyah pula supaya engkau selamat daripada kejahatannya.” (Jilaau Al Uyun, halaman 218)
Tetapi setelah golongan Syiah pada ketika itu merasakan rencana mereka semua akan gagal jika perjanjian damai di antara pihak Sayyidina Ali dan Muawiyah disetujui, maka golongan Syiah yang merupakan musuh-musuh Islam yang menyamar atas nama Islam itu memikirkan diri mereka tidak selamat apabila perdamaian antara Sayyidina Ali dan Muawiyah terjadi. Maka segolongan dari mereka telah mengasingkan diri dari mengikuti Sayyidina Ali dan mereka menjadi golongan Khawarij sementara segolongan lagi tetap berada bersama Sayyidina Ali. Perpecahan yang terjadi ini sebanarnya satu taktik mereka untuk mempergunakan Sayyidina Ali demi kepentingan mereka yang jahat itu dan untuk berlindung di balik beliau dari hukuman karena pembunuhan Khalifah Utsman.
Sayyidina Hasan pun pernah ditikam oleh golongan Syiah pahanya hingga tembus kemudian mereka menunjukkan pula kebiadabannya terhadap Sayyidina Hasan dengan merampas harta bendanya dan menarik kain sajadah yang diduduki oleh Sayyidina Hasan. Ini semua tidak lain melainkan karena Sayyidina Hasan telah bersedia untuk berdamai dengan pihak Sayyidina Muawiyah. Bahkan bukan sekadar itu saja mereka telah menuduh Sayyidina Hasan sebagai orang yang menghinakan orang-orang Islam dan sebagai orang yang menghitamkan muka orang-orang Mukmin.
Kebiadaban Syiah dan kebusukan hatinya ditujukan juga kepada Imam Ja’far Ash Shadiq bila seorang Syiah yang sangat setia kepada Imam Ja’far Ash Shadiq, yaitu Rabi’, menangkap Imam Ja’far Ash Shadiq dan membawanya kehadapan Khalifah Al Mansur supaya dibunuh. Rabi’ telah memerintahkan anaknya yang paling keras hati supaya menyeret Imam Ja’far Ash Shadiq dengan kudanya. Ini tersebut di dalam kitab Jilaau Al Uyun karangan Mullah Baqir Majlisi.
Di dalam kitab yang sama, pengarangnya juga menyebutkan kisah pembunuhan Ali Ar Ridha yaitu Imam yang ke delapan menurut Syiah, bahwa beliau telah dibunuh oleh Sabih Dailamy, seorang Syiah tulen atas perintah Al Makmun. Diceritakan bahwa selepas dibunuh itu, Imam Ar Ridha dengan mukjizatnya terus hidup kembali dan tidak ada langsung bekas-bekas pedang di tubuhnya.
Bagaimanapun Syiah telah menyempurnakan tugasnya untuk membunuh Imam Ar Ridha. Oleh karena itu, tidaklah heran golongan yang sampai begini biadabnya terhadap Imam-imam bisa membunuh Sayyidina Husain tanpa belas kasihan di medan Karbala.
Boleh jadi kita akan mengatakan bagaimana mungkin pengikut-pengikut setia Imam-imam ini yang dikenal dengan sebutan ‘Syiah’ bisa bertindak kejam pula terhadap Imam-imamnya? Tidakkah mereka sanggup mempertahankan nyawa demi mempertahankan Iman-imam mereka? Secara ringkas, bolehlah kita katakan bahwa ‘perasaan keheranan’ yang seperti ini mungkin timbul dari dalam fikiran Syiah, yang tidak mengetahui latar belakang terbentuknya Syiah itu sendiri. Mereka hanya menerima secara membabi buta daripada orang-orang terdahulu. Adapun orang-orang yang mengadakan sesuatu fahaman dengan tujuan-tujuan yang tertentu dan masih hidup ketika mana ajaran dan fahaman itu mula dikembangkan tentu sekali mereka sedar maksud dan tujuan mereka mengadakan ajaran tersebut. Pada lahirnya mereka menunjukkan taat setia dan kasih sayang kepada Imam-imam itu, tetapi pada hakikatnya adalah sebaliknya.
Kedua
Di antara bukti yang menunjukkan tidak adanya peranan Yazid dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala, bahkan golongan Syiah-lah yang bertanggungjawab membunuh beliau bersama dengan orang-orang yang ikut serta di dalam rombongan itu, ialah adanya hubungan perbesanan di antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, selepas terjadinya peperangan Shiffin dan juga selepas terjadinya peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala.
Tidak mungkin orang-orang yang memiliki kehormatan seperti kalangan Ahlul Bait akan menikah dengan orang-orang yang diketahui oleh mereka sebagai pembunuh-pembunuh atau orang-orang yang bertanggungjawab di dalam membunuh ayah, kakek, atau paman mereka Sayyidina Husain. Hubungan ini, selain menunjukkan pemerintah-pemerintah dari kalangan Bani Muawiyah dan Yazid sebagai orang yang tidak bersalah di dalam pembunuhan ini, juga menunjukkan mereka adalah golongan yang banyak berbudi kepada Ahlul Bait dan senantiasa menjalinkan ikatan kasih sayang di antara mereka dan Ahlul Bait.
Di antara contoh hubungan perbesanan ini ialah:
  1. Anak perempuan Sayyidina Ali sendiri bernama Ramlah telah menikah dengan anak Marwan bin Al Hakam yang bernama Muawiyah yaitu saudara Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan. (Ibn Hazm, Jamharatu Al Ansab, halaman 80)
  2. Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali menikah dengan Amirul Mukminin Abdul Malik sendiri yaitu khalifah yang ke empat dari kerajaan Bani Umayah. (Al Bidayah Wa An Nihayah, jilid 9 halaman 69)
  3. Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali yaitu Khadijah menikah dengan anak gubernur  ’Amir bin Kuraiz dari Bani Umayah bernama Abdul Rahman. (Jamharatu An Ansab, halaman 68). ‘Amir bin Kuraiz adalah gubernur pihak Muawiyah di Basrah dan dalam peperangan Jamal dia berada di pihak lawan Sayyidina Ali.
Cucu Sayyidina Hasan bukan seorang dua orang saja yang telah menikah dengan pemimpin-pemimpin kerajaan Bani Umayah, bahkan sejarah telah mencatat 6 orang dari cucu beliau telah menikah dengan mereka yaitu:
  1. Nafisah binti Zaid bin Hasan menikah dengan Amirul Mukminin Al Walid bin Abdul Malik bin Marwan.
  2. Zainab binti Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali juga telah menikah dengan Khalifah Al Walid bin Abdul Malik. Zainab ini adalah di antara orang yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain ke Kufah dan dia adalah salah seorang yang menyaksikan peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala dengan mata kepalanya sendiri.
  3. Ummu Qasim binti Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali menikah dengan cucu Sayyidina Utsman yaitu Marwan bin Aban. Ummu Qasim ini selepas kematian suaminya Marwan menikah pula dengan Ali Zainal Abidin bin Al Husain.
  4. Cucu perempuan Sayyidina Hasan yang keempat telah menikah dengan anak Marwan bin Al Hakam yaitu Muawiyah.
  5. Cucu Sayyidina Hasan yang kelima bernama Hammaadah binti Hasan Al Mutsanna menikah dengan anak saudara Amirul Mukminin Marwan bin Al Hakam yaitu Ismail bin Abdul Malik.
  6. Cucu Sayyidina Hasan yang keenam bernama Khadijah binti Husain bin Hasan bin Ali juga pernah menikah dengan Ismail bin Abdul Malik yang tersebut tadi sebelum sepupunya Hammaadah.
Perlu diingat bahwa semua mereka yang tersebut itu meninggalkan keturunan.
Dari kalangan anak cucu Sayyidina Husain pula banyak yang telah menjalinkan perkawinan dengan individu-individu dari keluarga Bani Umayah, antaranya ialah:
  1. Anak perempuan Sayyidina Husain yang terkenal bernama Sakinah. Setelah beberapa lama terbunuh suaminya, Mush’ab bin Zubair, beliau telah menikah dengan cucu Amirul Mukminin Marwan yaitu Al Asbagh bin Abdul Aziz bin Marwan. Asbagh ini adalah saudara dari Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, sedangkan isteri Asbagh yang kedua ialah anak dari Amirul Mukminin Yazid yaitu Ummu Yazid. (Jamharatu Al Ansab)
  2. Sakinah anak Sayyidina Husain yang tersebut tadi pernah juga menikah dengan cucu Sayyidina Uthman yang bernama Zaid bin Amar bin Utsman.
Sementara anak cucu kepada saudara-saudara Sayyidina Husain yaitu Abbas bin Ali dan lain-lain juga telah mengadakan perhubungan perbesanan dengan keluarga Umayah. Di antaranya yang bisa disebutkan ialah:
Cucu perempuan dari saudara Sayyidina Husain yaitu Abbas bin Ali bernama Nafisah binti Ubaidillah bin Abbas bin Ali menikah dengan cucu Amirul Mukminin Yazid yang bernama Abdullah bin Khalid bin Yazid bin Muawiyah. Kakek dari  Nafisah ini yaitu Abbas bin Ali adalah di antara orang yang ikut serta dalam rombongan Sayyidina Husain ke Kufah. Beliau terbunuh dalam pertempuran di medan Karbala .
Sekiranya benar cerita yang diambil oleh ahli -ahli sejarah dari Abu Mukhnaf, Hisyam dan lain–lain tentang kezaliman Yazid di Karbala yang dikatakan telah memerintahkan supaya tidak dibenarkan setitik pun air walaupun kepada anak–anak yang ikut serta dalam rombongan Sayyidina Husain itu sehingga mereka mati kehausan apakah mungkin perkawinan di antara cucu kepada Abbas ini terjadi dengan cucu Yazid. Apakah kekejaman–kekejaman yang tidak ada tolak bandingnya seperti yang digambarkan di dalam sejarah boleh dilupakan begitu mudah oleh anak–anak cucu orang–orang yang teraniaya di medan Karbala itu? Apa lagi jika dilihat kepada zaman terjadinya perkawinan mereka ini, bukan lagi di zaman kekuasaan keluarga Yazid, bahkan yang berkuasa pada ketika itu ialah keluarga Marwan. Di sana tidak terdapat satu pun alasan untuk kita mengatakan perkawinan itu terjadi secara kekerasan atau paksaan.
Perkawinan mereka membuktikan kisah–kisah kezaliman yang dilakukan oleh tentara Yazid kepada rombongan Sayyidina Husain itu cerita–cerita rekaan oleh Abu Mukhnaf, Al Kalbi dan anaknya Hisyam, dan lain–lain.
Cucu perempuan dari saudara Sayyidina Husain, Muhammad bin Ali (yang terkenal dengan Muhammad bin Hanafiyah) bernama Lubabah menikah dengan Said bin Abdullah bin Amr bin Said bin Al Ash bin Umayah. Ayah Lubabah ini ialah Abu Hisyam Abdullah yang dipercayai sebagai imam oleh Syiah Kaisaniyah .
Demikianlah ringkasnya dikemukakan hubungan perbesanan yang berlaku di antara Bani Umaiyyah dan Bani Hasyim terutamanya dari anak cucu Sayyidina Ali, Hasan dan Husain. Hubungan perbesanan di antara mereka sangat banyak terdapat di dalam kitab-kitab Ansab dan sejarah. Pengetahuan lebih lanjut bisa dirujuk dari kitab–kitab seperti Jamratu Al Ansab, Nasbu Quraisy, Al Bidayah wa An Nihayah, Umdatu Al Thalib Fi Ansab Aal Abi Thalib, dan lain–lain.

Minggu, 03 Februari 2013

Cuma ahlu Sunnah Pecinta Sejati Ahlul Bayt Ini buktinya


Mengaku cinta, namun tak mampu membuktikannya adalah dusta, bahasa indonesianya 'gombal' atau cinta palsu.
Syi'ah begitu semangatnya mengklaim cinta ahlul bait. Tidak cukup di situ, mereka juga menuduh Ahlus sunnah sebagai 'Nawashib' (musuh ahlul bait).

Pada kesempatan kali ini kita akan buktikan 'cinta palsu' Syi'ah, dan alangkah besarnya cinta ahlus sunnah kepada ahlul bait.

Riwayat hadits, adalah perkara sakral dan urgen, sebab:
1. Ketika seorang perawi meriwayatkan hadits dari seseorang apa adanya, maka ini adalah indikasi 'kepercayaannya' kepada orang tersebut.
2. Ini membuktikan kejujuran perawi, sebab jika dia tidak jujur, maka ia bisa memanipulasi hadits yang diriwayatkannya, dan dampak negatif akan jatuh kepada sumber hadits tersebut.
3. Ilmu sanad (silsilah riwayat) hadits hanya dimilki oleh ahlus sunnah. Dimana satu persatu perawi dipelajari kejujuran dan agamanya. Maka kita mengenal hadits shahih, dha'if, maupun maudhu'.

***

Maka kita dapat membandingkan riwayat-riawayat hadits dari kitab ahlus sunnah dan kitab syi'ah, dengan membandingkan jumlah hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah dan ahlul bait :

I.Kitab2 hadits Syi'ah:

1. Al-Kafi karya Al-Kulaini : Buku hadits paling shohih di kalangan Syi'ah,di dalamnya terdapat 16.199 hadits.

Hadits yang shohih : 6714 ,dan yang dho'if : 9485. Ini berdasarkan pengakuan Fakhruddin Ath-Thuraihi ( Ulama Syi'ah lahir di Najaf 979 H,dan wafat di Najaf pada 1085 H,dan ia memiliki 20 karangan).Dan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah dalam kitab ini hanya 92 hadits.Hadits ini kebanyakan bermasalah atau ahad,dan hadits ahad tidak dpt dijadikan hujjah menurut mazdhab Imamiyah Itsna 'Asyariyah.

2. Man La Yahdhuruhul Faqih karya Shaduq.
3. At-Tahdzib
4. Al-Istibshar,keduanya karya Ath-Thusi.

Dalam keempat kitab hadits mu'tamad ini terdapat lebih dari 44 ribu hadits. Dengan perincian sebagai berikut:

- Hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam hanya berjumlah : 644 hadits.

- Riwayat Fathimah : tidak ada satupun hadits riwayat Fathimah dalam 44 ribu adits di atas.ajiiiiib !!

- Riwayat Imam Ali : hanya terdapat 690 riwayat dari 44 ribu hadits di atas,padahal Imam Ali adalah imam pertama dan terbesar ?? dan kebanyakan riwayat ini mursal.

- Riwayat Imam Hasan Bin Ali : 21 riwayat.

- Riwayat Imam Husein : hanya 7 riwayat.

Saatnya sekarang kita bandingkan dengn kitab hadits Ahlus Sunnah :

II. Kitab Hadits Ahlus Sunnah: Shahih Bukhari,Shahih Muslim, Sunan Nasa'i,Sunan Tirmidzi,Sunan Ibnu Majah,Sunan Abu Daud,Muwaththa' Imam Malik,Musnad Imam Ahmad,dan Sunan Ad-Darimi.

Hampir seluruh hadits dalam kitab yang sembilan ini diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,adapaun riwayat dari Ahlul Bait,adalah sbb:

- Riwayat Fathimah Radhiyallahu Anha : 11 riwayat,dan 8 di antaranya terdapat di Musnad Imam Ahmad.
- Riwayat Imam Ali : 1583 riwayat,dan dalam Musnad Imam Ahmad terdapat 804 riwayat.

Artinya riwayat dalam Musnad Imam Ahmad mengalahkan jumlah riwayat dalam 4 kitab syi'ah yang mu'tabar.

- Riwayat Imam Hasan : 35 riwayat.
- Riwayat Imam Husein : 43 riwayat,dan dalam Musnad Imam Ahmad terdpt 18 riwayat,artinya lebih banyak dari 4 buku syi'ah.

III. Riwayat Hadits dari Ahlul Bait yang lain dalam kitab Ahlus Sunnah:

1. Shahih Bukhari : 25 hadits dari Zainal Abidin,setara denga riwayat Utsman bin Affan : 25 hadits.
2. Shahih Muslim : 15 hadits dari Zainal Abidin,19 hadits dari Al-Baqir,dan 17 hadits dari Ash-Shadiq,sedang dari Abu Bakar Ash-Shiddiq hanya 9 hadits.
3. Sunan Tirmidzi : 23 hadits dari Al-Baqir,20 hadits dari Ash-Shadiq,sedangkn Abu Bakar hanya memilki 22 riwayat,dan Utsman 19 riwayat.
4. Sunan Nasa'i : 56 hadits dari Al-Baqir,44 hadits dari Ash-Shadiq,sedang Abu Bakar hanya 22,dan Utsman 27 riwayat.
5. Sunan Abu Dawud : 11 dari Zainal Abidin,17 dari Al-Baqir,11 dari Ash-Shadiq,sedang Abu Bakar hanya 11 hadits,dan Utsman 15 hadits.
6. Sunan Ibnu Majah : 24 dari Imam Al-Baqir,19 dari Ash-Shadiq,dan dari Abu Bakar 16hadits,dan dari Utsman bin Affan 23riwayat.

IV. Persentase Keshahihan Kitab Hadits:

1. Hadits Shahih dan Hasan dalam Kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini : 41,5 % (menurut Fakhruddin Ath-Thuraihi).
Sedang menurut Muhammad Baqir Al-Bahbudi,hanya 27.9 %.

2. Hadits Shahih dan Hasan dalam Kitab Shahih Bukhari : 99 %.
3. Hadits Shahih dan Hasan dalam Kitab Shahih Muslim : 99 %.
4. Hadits Shahih dan Hasan dalam Kitab Sunan Nasa'i : 91,6 % (berdasarkan tahqiq syekh Albani)
5. Hadits Shahih dan Hasan dalam Kitab Sunan Abu Dawud : 74,4 % (berdasarkan tahqiq syekh Albani)
6. Hadits Shahih dan Hasan dalam Kitab Sunan Tirmidzi : 73,2 % (berdasarkan tahqiq syekh Albani)
7. Hadits Shahih dan Hasan dalam Kitab Ibnu Majah : 73 % (berdasarkan tahqiqi syekh Albani).

Berarti, Sunan Ibnu Majah yang menempati posisi ke-tujuh dalam urutan kitab hadits Ahlus Sunnah,mengalahkan keshahihan kitab tershahih Syi'ah Al-Kafi.

Setelah mengamati perbandingan otentik ini, terbukti dengan jelas bahwa Islam (Baca; Ahlus Sunnah) sangat menjaga dan menjunjung tinggi ajaran Ahlul Bait Nabi tercinta dengan mengabadikan perkataan serta riwayat-riwayat dari mereka. Mencintai mereka tidaklah dengan menangis-nangis dan sujud di kuburan-kuburan mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Syiah.

Senin, 28 Januari 2013

Rujukan dan Kajian


Rujukan dan Kajian[1]
Al-Qur’an dan Terjemahannya.

al-Mushaf v1.0 cdrom: Harf Information Technologies, Kaherah. (www.harf.com).

Abdullah Basmeih Tafsir Pimpinan al-Rahman kepada Pengertian al-Qur‘an. Jabatan Perdana Menteri Malaysia (edisi cdrom Holy Qur’an v6.31 Harf Information Technologies, Kaherah).

Yayasan Penyelenggara Penterjemah & Penafsir al-Qur’an, Indonesiaal-Qur’an dan Terjemahannya.
Al-Qur’an dan Tafsirnya.
عبد الرزاق بن همام الصنعاني (211): تفسير عبد الرزاق. تحقيق: محمود محمد عبده. دار الكتب العلمية. بيروت 1999م.
ابن جرير الطبري – أبي جعفر محمد بن جرير (310): جامع البيان عن تأويل آي القرآن. تحقيق: صدقي جميل العطار. دار الفكر. بيروت 1999م.
ابن أبي حاتم – عبد الرحمن بن محمد بن ادريس الرازي (327): تفسير القرآن العظيم مسندا عن رسوا الله والصحابة والتابعين. تحقيق: أسعد محمد الطيب. المكتبة العصرية.
بيروت 1999م.
الجصاص – أبي بكر احمد بن علي الرازي (370): أحكام القرآن. تحقيق: عبد السلام محمد علي. دار الكتب العلمية. بيروت.
الثعلبي – أبو إسحاق أحمد بن محمد بن إبراهم النيسابوري (427): الكشف والبيان. تحقيق: محمد بن عاشور. دار إحياء التراث العربية. بيروت 2002م.
الماوردي – علي بن محمد بن حبيبا البصري (450): النكت والعيون. تحقيق: السيد بن عبد المفصود. دار الكتب العلمية. بيروت.
الواحدي – أبي الحسن علي بن أحمد النيسابوري (468): أسباب النزول. تحقيق: السيد أحمد صقر. دار القباة, جدة و مؤسسة علوم القرآن, بيروت 1987م.
الواحدي – أبي الحسن علي بن أحمد النيسابوري (468): الوجيز في تفسير الكتاب العزيز. تحقيق: صفوان عدنان. دار القلم, دمشق والدر الشامية, بيروت.
الواحدي – أبي الحسن علي بن أحمد النيسابوري (468): الوسيط في تفسير القرآن المجيد. تحقيق: عادل أحمد عبد الموجود و علي محمد معوض و أحمد محمد صيرة و أحمد عبد الغني و عبد الرحمن عويو. دار الكتب العلمية. بيروت 1994م.
البغوي – أبي محمد الحسين بن مسعود (516): معالم التنزل. تحقيق: عبد السلام محمد علي. دار الكتب العلمية. بيروت 1995م.
الزمخشري – أبي القاسم محمود بن عمر الخوارزمي (538): الكشاف عن حقائق التنزيل وعيون الأقآويل في وجوه التأويل. تحقيق: عبد الرزاق المهدي. دار إحياء التراث العربية. بيروت 1997م. (مع): ابن حجر العسقلاني – أحمد بن علي بن محمد (852): الكافي الشاف في تخريج أحديث الكشاف. دار إحياء التراث العربية. بيروت 1997م.
الطبرسي – أبو علي الفضل بن الحسن (علماء الامامية في القرن السادس): مجمع البيان في تفسير القرآن. تحقيق: هاشم الرسولي المحللاتي. دار إحياء التراث العربية. بيروت 1996م.
فخر الدين الرازي – محمد بن عمر بن الحسين الطبرستاني (606): مفاتيح الغيب. دار إحياء التراث العربية. بيروت 1999م.
عز الدين - عبد العزيز بن عبد السلام السلمي الدمشي (660): تفسير القرآن (اختصار النكت للماوردي). دار ابن حزم. بيروت 2002م.
القرطبي – أبي عبد الله محمد بن أحمد الأنصاري (671): الجامع لأحكام القرآن. تحقيق: صدقي جميل العطار. دار الفكر. بيروت 1999م.
البيضاوي – عبد الله بن عمر بن محمد الشيرازي (685): أنوار التنزيل وأسرار التأويل. دار الفكر. بيروت 1996م.
النسفي – عبد الله بن أحمد بن محمود (701): مدارك التنزير وحقائق التأويل. دار القلم. بيروت 1989م.
الخازن – علي بن محمد بن ابراهم البغدادي (725): لباب التأويل في معاني التنزيل. تحقيق: عبد السلام محمد علي. دار الكتب العلمية. بيروت 1995م.
ابن تيمية – أبي العباس تقي الدين أحمد بن عبد الحليم الحراني (728): التفسير الكامل وهو تفسير آي القرآن الكريم. جمع ودراسة وتحقيق وتخريج: عمر العمروي. دار الفكر. بيروت 2002م.
أبي حيان – محمد بن يوسف بن علي الاندلسي (754): البحر المحيط. وبهامشه: النهر الماد من البحر. دار إحياء التراث العربية. بيروت 1990م.
ابن كثير – عماد الدين أبى الفداء إسماعيل بن كثير الدمشقي (774): تفسير القرآن العظيم. تحقيق: مصطفى السيد محمد و محمد السيد رشاد و محمد فضل العجماوى و علي أحمد عبد الباقي و حسن عباس قطب. مؤسسة قرطبة. القاهرة 2000م.
ابن عادل – أبي حفص عمر بن علي (المتوف بعد 880): اللباب في علوم الكتاب. تحقيق: عادل أحمد عبد الموجود و علي محمد معوض. دار الكتب العلمية. بيروت 1998م.
البقاعي – بهار الدين أبي الحسن ابراهم بن عمر (885): نظم الدرر في تناسب الآيات والسور. تحقيق: عبد الرزاق غالب المهدي. دار الكتب العلمية. بيروت 1995م.
السيوطي – جلال الدين عبد الرحمن (911): الدر المنثور في التفسير المأثور. دار الكتب العلمية. بيروت 2000م.
الشوكاني – محمد بن علي بن محمد (1250): فتح القدير الجامع بين فني الرواية والدراية من علم التفسير. تحقيق: هشام البخاري و خضر عكاري. المكتبة العصرية. بيروت 1999م.
الألوسي – شهاب الدين السيد محمود الألوسي البغدادي (1275): روح المعاني في تفسير القرآن العظيم والسبع المثاني. تحقيق: علي عبد الباري عطية. دار الكتب العلمية. بيروت 1994م.
صديق خان بن حسن بن علي (1307): فتح البيان في مقاصد القرآن. تحقيق: عبد الله بن ابراهم الأنصاري. المكتبة العصرية. بيروت 1992م.
القاسمي – محمد جمال الدين (1332): محاسن التأويل. تحقيق: محمد عيون السود. دار الكتب العلمية. بيروت 1997م.
محمد رشيد رضا (1935م): تفسير القرآن الحكيم (المشهر بتفسير المنار). تحقيق: إبراهم شمس الدين. دار الكتب العلمية. بيروت 1999م.
السعدي – عبد الرحمن بن ناصر (1376): تيسير الكريم الرحمن في تفسير الكلام المنان. دار الفكر. بيروت 1995م.
الشنقيطي – محمد الأمين بن محمد المخار (1393): أضواء البيان في ايضاح القرآن بالقرآن. تحقيق: محمد عبد العزيز الخالدي. دار الكتب العلمية. بيروت 2000م.
سيد قطب (1966م): في ظلال القرآن. دار الشروق. القاهرة 2001م. (مع): علوي السقاف – تخريج أحاديث وآثار كتاب في ظلال القرآن. دار الهجرة. الرياض 1991م.
الطباطبائي – محمد بن حسين بن محمد (1981م): الميزان في تفسير القرآن. مئسسة الأعلمي. بيروت 1997م.
الرفاعي – محمد نسيب: تيسير العلي القدير لاختصار تفسير ابن كثير. مكتبة المعارف. الرياض 1989م.
سعيد حوى: الأساس في التفسير. دار السلام. القاهرة 1999م.
المراغي – أحمد مصطفى: تفسير المراغي. دار الكتب العلمية. بيروت 1998م.
وهبة الزحيلي: التفسير المنير في العقيدة والشرعية والمنهج. دار الفكر. دمشق 1998م.
محمد الأمين بن عبد الله الأرمي: حدائق الروح والريحان في روابي علوم القرآن. دار طوق النجاة. بيروت 2001م.

Muhammad Quraish Shihab – Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Lentera Hati, Djuanda 2000-2004.

Syed Anwar Ali – Qur’an: The Fundamental Law of Human Life. Hamdard Foundation, Karachi 1987.


Lain-lain rujukan:
النسائي – أبي عبد الرحمن أحمد بن شعيب (303): خصائص أمير المؤمنين علي بن أبي طالب. تحقيق: الداني بن منير آل زهوي. المكتبة العصرية. بيروت 2001م.
الكليني – محمد بن يعقوب بن إسحاق (328 أو 329): أصول الكافي. تحقيق: محمد جعفر شمس الدين. دار التعارف. بيروت 1998م.
ابن المغازلي – أبو الحسن علي بن محمد (483): مناقب الامام علي بن أبي طالب. تحقيق: محمد الباقر البهبودي. دار الأضواء. بيروت 2003م.
الحسكاني – عبيد الله بن عبد الله بن أحمد النيسابوري (من أعلام القرن الخامس): شواهد التنزيل لقواعد التفضيل في الآيات النازلة في أهل البيت. تحقيق: محمد الباقر البهبودي. مؤسسة الأعلمي. بيروت 1974م.
الخوارزمي – الموفق محمد بن أحمد المؤيد (568): مقتل الحسين. تحقيق: محمد طاهر السماوي. دار أنوار الهدى.
ابن طلحة – كمال الدين محمد بن طلحة بن محمد (652): مطالب السؤول في مناقب آل الرسول. تحقيق: ماجد بن أحمد العطية. مؤسسة أم القرى. بيروت 1420.
سبط ابن الجوزي – شمس الدين يوسف بن فرغلي بن عبد الله البغدادي (654): تذكرة الخواص. مؤسسة أهل البيت. بيروت.
ابن أبي الحديد – أبي حمد عز الدين بن هبة الله (655): شرح نهج البلاغة. تحقيق: محمد عبد الكريم. دار الكتب العلمية. بيروت 1998م.
المحب الطبري – أحمد بن عبد الله بن محمد (694): الرياض النضرة في مناقب العشرة. دار الكتب العلمية. بيروت 2003م.
المحب الطبري – أحمد بن عبد الله بن محمد (694): ذخائر العقبى في مناقيب ذوى القربى. دار المعرفة. بيروت.
ابن تيمية – أبي العباس تقي الدين أحمد بن عبد الحليم الحراني (728): منهاج السنة النبوية في نقض كلام الشيعة القدرية. تحقيق: محمد رشاد سالم.
ابن حجر العسقلاني – أحمد بن علي بن محمد (852): العجاب في بيان الأسباب. تحقيق: فواز أحمد زمرلي. دار ابن حزم. بيروت 2002م.
ابن الصباغ – علي بن محمد بن أحمد (855): الفصول المهمة في معرفة أحوال الأئمة. دار الأضواء. بيروت 1988م.
ابن حجر الهيتمي – أبي العباس أحمد بن محمد بن محمد (973): الصواعق المحرقة على أهل الرفض والضلال والزندقة. تحقيق: عبد الرحمن بن الشيخ عبد الله التركي و كامل محمد الخراط. مؤسسة الرسالة. بيروت 1997م.
البحراني – أبو المكارم هاشم بن سليمان بن إسماعيل التوبلي (1107 أو 1109): غية المرام وحجة الخصام في تعيين الأمام من طريق الخاص والعام. تحقيق: علي عاشور. مؤسسة التاريخ العربي. بيروت 2001م.
التستري – نورالله ضياء الدين أبو المجد بن محمد شريف الحسيني (1019): احقاق الحق وازهاق الباطر. مع تعليقات: شهاب الدين النجفي. دار الكتاب الاسلامي. بيروت.
الأميني – عبد الحسين أحمد الأميني النجفي -  الغدير في الكتاب والسنة والأدب. مركز الغدير. قم 1995م.
الشبراوي – عبد الله بن محمد عامر (1171): كتاب الإتحاف بحب الإشراف. مكتبة القادر.
القندوزي – سليمن بن ابراهم (1294): ينابيع المودة. منشورات الشريف الرض 1417.
الشبلنجي – مؤمن بن حسن مؤمن – نور الأبصار في مناقب آل بيت النبي المختار. دار الكتب العلمية. بيروت 2003م.
مرتضى الحسيني الفيروزآبادي – فضائل الخمسة من الصحاح الستة. مؤسسة الأعلمي. بيروت 1413.
أبي عبد الرحمن مقبل بن هادي الوادعي – الصحيح المسند من أسباب النزول. دار ابن حزم. بيروت 1994م.
محمد مرعي الأمين الأنطاكي – لماذا اخترت مذهب الشيعة. مؤسسة الأعلمي. بيروت.



[1]  Menyenaraikan semua sumber rujukan, khasnya kitab hadis dan kitab biografi para perawi hadis akan menggunakan jumlah mukasurat yang amat banyak. Oleh itu dalam ruangan ini hanya rujukan dalam bidang tafsir dan yang berkaitan sahaja akan disenaraikan.


:: Cover :: Index ::

Kata Penutup




Kata Penutup

Alhamdulillah lengkaplah perbahasan kita ke atas enam ayat “asas” yang paling masyhur diperhujahkan oleh Syi‘ah dan yang paling memberi kesan (impact) kepada masyarakat awam Ahl al-Sunnah. Para pembaca yang terdiri daripada mereka yang (1) berada di dalam Mazhab Syi‘ah, (2) pernah didakwah oleh Syi‘ah dan (3) bakal didakwah oleh Syi‘ah akan mendapati bahawa mereka (Syi‘ah) tidak akan lari daripada menggunakan ayat-ayat ini sebagai hujah, sama ada secara sebahagian atau keseluruhannya.

Bagi setiap ayat, perbahasan dimulakan dengan mengemukakan hujah-hujah Syi‘ah terhadapnya. Ini diikuti dengan jawapan Ahl al-Sunnah ke atas hujah-hujah tersebut. Jelas bahawa hujah-hujah Syi‘ah dengan mudah dapat dijawab dengan:

1. Mengkaji secara teliti ayat al-Qur’an tersebut. Kajian dilakukan dengan mencermati secara mendalam maksud Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam firman-Nya itu. Juga kaitannya dengan ayat sebelum dan selepasnya.

2. Mengkaji riwayat-riwayat yang digunakan untuk mentafsir ayat tersebut. Sebahagian daripada riwayat ini memiliki kecacatan dalam sanadnya, sebahagian lagi bercanggah dengan petunjuk al-Qur’an manakala sebahagian lagi – setelah dicermati secara mendalam – sebenarnya membelakangi hujah yang cuba ditarik oleh Syi‘ah daripadanya.

Jawapan kita ke atas enam ayat “asas” ini mencukupi untuk meruntuhkan Mazhab Syi‘ah dari sudut penghujahan ayat-ayat al-Qur’an. Sedia diketahui terdapat sejumlah ayat lain yang juga digunakan oleh Syi‘ah sebagai hujah. Namun sengaja penulis tidak memberi perhatian kepadanya kerana:

1. Membahas dan menjawab kesemua ayat yang dijadikan hujah oleh Syi‘ah bererti mengikut di belakang dalam permainan mereka. Yang benar kita perlu berada di hadapan dan ini tercapai dengan membezakan ayat yang membentuk “asas” mazhab mereka dan kemudian menjawabnya. Dengan terjawabnya beberapa ayat “asas” ini, runtuhlah mazhab mereka sehingga tidak perlu kita beri perhatian kepada ayat-ayat yang lain.

2. Selain daripada enam ayat “asas” ini, tiada yang memiliki nilai menetapkan kedudukan maksum dan jawatan khalifah kepada ‘Ali dan ahli keluarganya, radhiallahu ‘anhum.

3. Selain daripada enam ayat “asas” ini, ayat-ayat lain yang dijadikan hujah tidak lebih hanyalah sekadar: Menggunakan riwayat-riwayat yang lemah dan cacat untuk mengkhususkan ayat yang pada asalnya berbentuk umum.

4. Jika sekalipun riwayat tersebut terbukti sahih, paling maksimum ia dan ayat yang dirujuk olehnya hanya membuktikan keutamaan dan kemuliaan ‘Ali serta ahli keluarganya. Tidak lebih dari itu.

5. Hal ini tidak mengurangkan keutamaan dan kemuliaan lain-lain sahabat kerana bagi mereka juga terdapat ayat dan riwayat yang seumpama.

Insya-Allah penulis akan menyambung buku ini ke Siri Ketiga pula, iaitu: 

Jawapan Ahl al-Sunnah kepada hadis-hadis Rasulullah
yang dijadikan hujah oleh Syi‘ah dalam persoalan khalifah.

Antara hadis-hadis yang dimaksudkan:

1. Hadis al-Ghadir: Barangsiapa aku adalah Mawlanya maka ‘Ali adalah Mawlanya.

2. Hadis al-Tsaqalain: Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah (al-Qur’an) di mana di dalamnya terdapat hidayah dan (cahaya) nur, maka berpeganglah kepada Kitab Allah. ……Dan Ahl al-Bait aku. Aku peringatkan kalian kepada Allah berkenaan Ahl al-Baitku, aku peringatkan kalian kepada Allah berkenaan Ahl al-Baitku.

3. Hadis al-Safinah: Perumpamaan Ahl al-Baitku kepada kalian adalah bagaikan kapal Nabi Nuh. Barangsiapa menaikinya pasti dia selamat, barangsiapa tidak menaikinya pasti dia tenggelam.

4. Hadis al-Manzilatain: Wahai ‘Ali, kedudukan kamu di sisi aku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa.

5. Hadis Madinah al-‘Ilm: Aku adalah kota ilmu manakala ‘Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang hendakkan ilmu maka hendaklah masuk melalui pintunya.
dan lain-lain lagi.

Bersama kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala agar dipermudahkan bagi penulis untuk menyiapkan buku Siri Ketiga ini. Wassalamu‘alikum waRahmatullahi waBarakatuh


:: Cover :: Index ::