Sabtu, 01 November 2014

Konspirasi Rahasia Di Balik Tragedi Karbala dan Terbunuhnya Husain


Konspirasi Rahasia Di Balik Tragedi Karbala dan Terbunuhnya Husain
Satu tahun sesudah kelahiran Al-Hasan, cucu Rasulullah SAW, tanggal 3 Sya’ban tahun keempat Hijriah, Rasulullah SAW menerima kabar gembira dengan kelahiran Al-Husain. Maka, beliau pun segera menuju rumah Sayyidina Ali dan Sayyidah Zahra, dan berkata kepada Asma binti ‘Umais, “Hai Asma, tolong bawa kemari anakku itu.” Asma pun lalu membawa bayi yang terbungkus kain putih itu dan memberikannya kepada Rasulullah SAW. Beliau begitu gembira lalu mendekapnya. Dibacakannya adzan di telinga kanan bayi itu, dan iqamat di telinga kirinya. Kemudian ditidurkannya cucunya itu di kamarnya, lalu beliau menangis tersedu-sedu.
Mendengar tangis Rasulullah SAW itu, bertanyalah Asma, “Demi ayah dan ibuku, siapa yang engkau tangisi ya Rasulullah?” “Anakku ini,” jawab beliau. “Dia anak zaman,” kata Asma. “Wahai Asma, dia kelak akan dibunuh oleh sekelompok pembangkang sesudahku, yang syafaatku tidak akan sampai kepada mereka,” kata Rasulullah menjelaskan. Kemudian beliau berkata pula, “Wahai Asma, jangan engkau sampaikan apa yang kukatakan tadi kepada Fatimah, dia baru saja melahirkan.”
Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepada Ali, “Engkau beri nama siapa anakku ini?” “Saya tidak berani mendahului Anda, ya Rasulullah,” jawab Ali. Allah SWT kemudian menurunkan wahyu yang suci kepada kekasih-Nya Muhammad SAW, dengan membawa nama yang diberikan-Nya untuk anak itu. Dan ketika beliau telah menerima perintah untuk memberi nama anaknya tersebut, beliau menatap Ali dan berkata, “Namai dia Husain.”
Pada hari yang ketujuh, Rasulullah SAW bergegas datang ke rumah Az-Zahra, lalu menyembelih seekor domba sebagai aqiqah untuk Husain, mencukur rambutnya, dan bersedekah dengan perak seberat timbangan rambut itu, lantas menyuruh agar cucunya itu dikhitan. Begitulah, telah dilakukan untuk Al-Husain upacara sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW untuk kakaknya Al-Hasan.
Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, atau yang dikenal sebagai Husain Radhiyallahu ‘anhu, adalah cucu Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam, buah hati dan kecintaannya di dunia. Ia adalah saudara Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, penghulu pemuda penduduk surga. Kedudukan tinggi tersebut tidak ia peroleh, kecuali ia lakoni dengan ujian dan cobaan, dan sungguh Husain Radhiyallahu ‘anhu telah berhasil melewati ujian tersebut secara penuh dengan kesabaran dan keteguhan (tsabat) yang sempurna hingga menemui Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu, “Sesungguhnya ini adalah malaikat yang belum pernah turun ke bumi sebelum ini, ia meminta izin kepada Robbnya untuk mengucapkan salam kepadaku dan menyampaikan kabar gembira bahwa Fathimah adalah penghulu kaum wanita penghuni surga dan bahwasanya Hasan serta Husain adalah penghulu para pemuda penghuni surga.” (HR. Tirmidzi).
"Menyikapi Wafatnya Al-Husain bin 'Ali bin Abi Thaalib Ra"

Di bulan Muharram ini, ramai orang bicara seputar sejarah terbunuhnya Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thaalib. Salah seorang cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam dari puteri beliau, Fathimah bintu Abiha radhiyallahu ‘anha.

Sebagian kalangan berpandangan, pembunuhan Al-Husain adalah pembunuhan terhadap khalifah Islam yang wajib ditaati, dan semestinya segala urusan umat diserahkan kepada beliau. Ini adalah pendapat kelompok Syi’ah yang dikenal mensakralkan Al-Husain radhiyallahu ‘anhu. Sedangkan menurut kalangan yang lain, pembunuhan Al-Husain merupakan tindakan yang tidak bisa dipersalahkan. Pasalnya ia telah memberontak kepada kepemimpinan Yazid bin Mu’aawiyah bin Abi Sufyaan, dan dinilai ingin memecah belah persatuan kaum Muslimin. Ini adalah pendapatnya kelompok Naashibah yang dikenal dengan kebenciannya terhadap ‘Ali dan keluarga beliau.

Sikap kedua kelompok di atas, Syi’ah maupun Naashibah, adalah sikap ekstrim yang tidak bisa dibenarkan jika kita menimbangnya dengan prinsip Syari’ah. Mensakralkan Al-Husain adalah sikap ifrath atau melampaui batas dalam mengagungkan seseorang yang dapat menjerumuskan pelakunya kepada kesyirikan. Sebaliknya, membenci Al-Husain dan meridhai pembunuhannya adalah sikap tafrith atau melampaui batas dalam meremehkan kedudukan beliau yang sesungguhnya memiliki banyak keutamaan. Sedangkan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam membimbing kita untuk bersikap wasath (pertengahan) antara dua kubu ekstrim ifrath dan tafrith.

Lantas bagaimanakah sikap yang benar sebagai seorang Muslim dalam menyikapi tragedi terbunuhnya Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thaalib? Mari kita simak uraiannya berikut ini.

Sikap Orang-Orang Terhadap Pembunuhan Al-Husain

Tidak disangsikan lagi, peristiwa terbunuhnya Al-Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan musibah dan petaka besar yang menimpa umat Islam. Beliau terbunuh secara zalim dan teraniaya, demikian pula petaka yang menimpa ahli baitnya. Kendati demikian, para Ulama Ahlussunnah menegaskan, Al-Husain radhiyallahu ‘anhu wafat dalam keadaan syahid, kemuliaan, terangkatnya derajat beliau, dan kedekatannnya kepada Allah. Sebab Allah telah memilih dirinya untuk bertolak ke negeri Akhirat yang kekal menuju Surga-Nya. Sebagai ganti dari kehidupan dunia ini yang penuh sesak dan kesukaran.

Para Ulama juga menegaskan, alangkah baiknya jika Al-Husain tidak keluar menuju Kuufah. Meskipun para pembesar Shahabat seperti Ibnu ‘Abbaas, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Amr bin Al-‘Ash, Abu Sa’iid Al-Khudri, Abdullah bin Az-Zubair, serta kerabat Al-Husain sendiri kala itu tengah melarang beliau dan mencegahnya untuk tidak pergi ke sana. Namun beliau tetap yakin dengan ijtihadnya, bahwa apa yang diupayakan itulah yang menepati al-haq, dan akhirnya beliau mati terbunuh secara teraniaya. Demikianlah taqdir Allah, apa yang Allah taqdirkan pasti terjadi, sekalipun semua orang tidak menghendakinya.

Sesungguhnya peristiwa terbunuhnya Al-Husain radhiyallahu ‘anhu tidaklah lebih dahsyat jika kita bandingkan dengan terbunuhnya para Nabi ‘alaihisshalatu wassalam. Sebagaimana yang kita ketahui, betapa tragisnya pembunuhan Nabi Yahya ‘alaihissalam dan ayah beliau Nabi Zakariyya. Begitu pula pembunuhan terhadap ‘Umar bin Al-Khatthaab, ‘Utsmaan bin ‘Affaan, dan ‘Ali bin Abi Thaalib radhiyallahu ‘anhum. Tentu kedudukan mereka semua lebih utama dibandingkan Al-Husain radhiyallahu ‘anhu. Oleh sebab itu, seseorang tidak boleh menampar-nampar wajahnya, atau merobek-robek pakaiannya dan yang semisal itu, manakala mengingat terbunuhnya Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thaalib. Camkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam berikut:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukanlah termasuk golonganku orang yang menampar-nampar pipinya dan merobek-robek pakaiannya (saat ada orang yang wafat), dan menyerukan seruan-seruan jahiliyyah.” (HR. Al-Bukhari Bab: “Laysa Minnaa Man Syaqqal Juyuub” no. 1294 dan Muslim Bab: “Tahriim Dharbil Khuduud no. 103)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam juga bersabda:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِئَ مِنْ الصَّالِقَةِ وَالْحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam telah berlepas diri dari “As-Shaaliqah”, Al-Haaliqah, dan As-Syaaqqah.” (HR. Al-Bukhari Bab: “Mâ Yunha ‘Anil Halq ‘indal Mushibah” no. 1296 dan Muslim Bab: “Tahrim Dharbil Khuduud no. 140, 167)

As-Shaaliqah artinya wanita yang menjerit-jerit. Al-Haaliqah artinya wanita yang mencukur rambut. As-Syaaqqah, wanita yang merobek-robek pakaiannya. Semua itu dilakukan dalam rangka meratapi kematian seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam juga bersabda:

النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

“Orang yang meratapi mayit, jika ia mati dalam keadaan belum sempat bertaubat daripadanya, maka pada hari Kiamat nanti ia akan dikenakan pakaian dari timah yang panas dan baju dari kudis.” (HR. Muslim Bab: “Tasydid fin Nihaayah” no. 934)

Justru sikap seorang muslim saat tertimpa musibah, sebagaimana yang Allah firmankan:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Yaitu apabila orang-orang yang ditimpa musibah mereka mengucapkan, “Innaa lilaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,” (Al-Baqarah: 156)

Tiga Kelompok dalam Menyikapi Pembunuhan Al-Husain

Dalam menyikapi pembunuhan Al-Husain sebagaimana yang telah kami singgung di muka, setidaknya ada tiga golongan yang masing-masingnya memiliki perbedaan sikap.

Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa pembunuhan Al-Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan tindakan yang tidak bisa disalahkan. Karena ia memberontak kepada seorang pemimpin dan ingin memecah belah persatuan kaum Muslimin. Mereka berargumentasi dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوه

“Barangsiapa yang mendatangi kalian, sedangkan urusan kalian di tangan satu kepemimpinan, mereka ingin memecah belah persatuan kalian, maka bunuhlah ia, siapapun orangnya.” (HR. Muslim Bab: “Hukmu Man Farraqa Amral Muslimin wa Huwa Mujtami” no, 1852)

Maka di sini Al-Husain dinilai ingin memecah belah persatuan kaum Muslimin. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Siapapun orangnya..” Maka peristiwa pembunuhan Al-Husain di sini tidak bisa disalahkan. Ini pendapat kelompok Naashibah yang dikenal kebenciannya terhadap ‘Ali bin Abi Thaalib dan keluarga beliau.

Kedua, kelompok yang mengatakan bahwa Al-Husain radhiyallahu ‘anhu adalah pemimpin yang wajib ditaati. Semestinya segala urusan umat haruslah diserahkan kepada beliau. Ini adalah pendapatnya sekte Syi’ah yang dikenal sangat mensakralkan ‘Ali bin Abi Thaalib dan keluarga beliau.

Ketiga, kelompok yang berpendapat bahwa Al-Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh dalam keadaan terzalimi dan teraniaya. Al-Husain pada waktu itu bukanlah sebagai khalifah, dan bukan pula terbunuh sebagai pemberontak. Akan tetapi, ia terbunuh dalam keadaan teraniaya dan syahid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Al-Hasan dan Al-Husain adalah dua pemimpin para pemuda penduduk Surga.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan beliau Bab: “Manaaqibul Hasan wal Husain” no. 3768)

Pendapat inilah yang adil dan tengah-tengah. Ini pendapat yang dipegang oleh para Ulama Ahlussunnah, atau mereka yang dikenal sangat kuat berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam dan para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum. (Faedah dari kitab "Hiqbah minat Taarikh Maa Bayna Wafaatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam ila Maqtalil Husain radhiyallahu ‘anhu” halaman 228)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar